sarang_wahabi

Saudi Habiskan 1000 Triliun untuk Ekspor Ajaran Wahabi

Peran Arab Saudi dalam mensponsori maraknya intoleransi, semangat kebencian dan ekstremisme berbasis agama sepertinya tak bisa lagi dipungkiri. Hal itu dikemukakan oleh Senator Amerika Serikat Chris Murphy, ketika menyoroti persoalan ekstremisme di Pakistan. “Ada sekitar 24,000 madrasah di Pakistan, dan ribuan diantaranya dibiayai dengan dana yang berasal dari Arab Saudi. Mereka mengajarkan model keislaman yang sarat sentimen anti-Syiah dan anti-Barat. Madrasah-madrasah di Pakistan tak ubahnya liga kecil buat ISIS dan Al-Qaeda,” kata Murphy.

Amerika, yang merupakan sekutu Arab Saudi, tampaknya mulai tidak nyaman dengan sepak terjang Arab Saudi dalam mendukung kelompok-kelompok ekstremis. Makin banyak bukti ditemukan bahwa kelompok-kelompok radikal memiliki hubungan yang dekat dengan pemerintahan Arab Saudi. Basis ideologi kelompok radikal ditengarai sebagian besar adalah Wahabi, yang merupakan ideologi resmi pemerintahan Wahabi.

Di depan Dewan Hubungan Luar Negeri akhir Januari 2016, Chris Murphy menyatakan bahwa madrasah-madrasah yang dibiayai Arab Saudi memang tidak secara langsung mengajarkan kekerasan, tetapi mereka mengajarkan ajaran yang banyak mengandung sentimen kebencian yang bisa menumbuhkan semangat untuk bergabung dalam tindakan terorisme. “Wahabisme mereka menumbuhkembangkan radikalisme,” katanya.

Bukan hanya Murphy, Presiden Amerika Barack Obama baru-baru ini juga menyatakan bahwa Arab Saudi ikut berperan dalam menguatnya ekstremisme di Indonesia. Obama menyebut bahwa Arab Saudi telah menggelontorkan banyak dana ke Indonesia baik untuk membangun madrasah, masjid atau beasiswa, dengan tujuan untuk mengekspor ajaran Wahabi. Sehingga tak heran, kata Obama, karakter Islam Indonesia yang dulu lebih santai dan sinkretik menjadi lebih fundamentalis dan kaku. “Makin banyak perempuan muslim Indonesia yang menggunakan hijab ala Arab Saudi,” kata Obama merujuk kondisi Indonesia terkini.

Menurut perkiraan, sejak 1960 Saudi telah menggelontorkan kurang lebih 100 miliar dolar atau lebih dari 1000 triliun rupiah dalam proyek ekspor ajaran Wahabi dan memperluas pengaruh kerajaan Arab Saudi ke berbagai negara. Angka ini lebih besar dari yang digelontorkan Uni Soviet saat perang dingin melawan Amerika, yang hanya berkisar 7 miliar dolar.

Murphy menekankan pada Kongres Amerika untuk mengevaluasi atau bahkan menghentikan dukungan terhadap operasi militer Saudi di Yaman hingga persoalan ekspor ajaran Wahabi yang memfasilitasi tumbuhnya ekstremisme dan radikalisme dibahas dan dicapai kemajuan bagi kepentingan Amerika.

Namun Amerika tampaknya selalu standar ganda dalam bersikap terhadap Saudi. Sebagaimana kita tahu, Arab Saudi adalah sekutu Amerika di Timur Tengah, yang banyak mendukung kepentingan Amerika di Timur Tengah. Maka ketika Obama ditanya terkait apa yang akan dilakukan Amerika terhadap Saudi yang mensponsori perluasan ekstremisme dan puritanisme yang merugikan Amerika sementara di sisi lain Saudi adalah sekutu politik Amerika, ia hanya bisa menjawab, “It’s complicated.

ISLAM CO ID


Lembaga penelitian inggris Henry Jackson Society dalam laporan yang dirilis kemarin menyebut Arab Saudi adalah negara pendukung utama ekstremisme di Inggris.

“Sejak 1960-an Arab Saudi mendukung upaya penyebaran paham radikal Wahabi di seantero dunia Islam dengan menggelontorkan dana jutaan dolar, termasuk kepada komunitas muslim di negara Barat,” kata laporan lembaga itu, seperti dilansir laman Press TV, Rabu (5/7).

Selain itu, Saudi juga menjadi negara asing yang mendanai paham ekstremisme di Inggris lewat berbagai institusi yang menghadirkan ulama radikal dan menyebarkan literatur berpaham ekstrem. “Pengaruh Saudi juga disusupkan melalui pelatihan para ulama Inggris ke Arab Saudi serta penggunaan buku-buku teks di sejumlah sekolah Islam di Inggris,” lanjut laporan Henry Jackson Society.

Sejumlah ulama radikal di Inggris menganut ideologi Wahabi yang menjalin hubungan dengan pendukung ekstremisme di luar negeri. Menurut laporan tersebut, sokongan dana dari Saudi untuk menyebarkan paham Wahabi ke seluruh dunia meningkat dua kali lipat pada 2015 dibanding pada 2007 yang mencapai USD 2 miliar.

Diketahui pula, sejumlah warga Inggris yang ikut berperang di Irak dan Suriah bersama kelompok takfiri ternyata sebelumnya telah mengalami radikalisasi lewat lembaga didanai asing dan ulamanya.

Wahabisme adalah ideologi ekstremis yang dominan di Arab Saudi dan disebarkan oleh para ulama didukung rezim Riyadh.  Tom Wilson, penulis laporan Henry Jackson Society menulis, “Arab Saudi tidak diragukan lagi sebagai penyokong utama negara-negara yang menyebarkan paham ekstremisme.”

Kedutaan Arab Saudi di London tentu berang dengan isi laporan Henry Jackson Society ini dan menyebutnya sebagai ‘tidak berdasar’.

MERDEKA


Manuver Saudi Mengubah Indonesia Jadi Sarang Wahabi Radikal

Namun tiba-tiba segalanya berubah menjadi runyam. Berdalih ucapan yang dibuat oleh gubernur tentang Al-Quran, massa yang merupakan orang-orang muslim yang dipenuhi emosi turun ke jalan untuk mengutuk sang gubernur. Dalam waktu yang singkat, dia kalah dalam pemilihan, ditangkap polisi, dituduh melakukan penghinaan, dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Peristiwa ini sangat mengkhawatirkan karena Indonesia, sebagai negara muslim terbesar di dunia, telah lama menjadi salah satu negara dengan karakteristik paling toleran. Islam Indonesia, seperti halnya tercermin dalam beragam sistem kepercayaan yang ada di kepulauan (Indonesia) yang luas itu, bersifat sinkretis, lembut, dan berpikiran terbuka.

Lengsernya Gubernur DKI Jakarta yang mengagetkan itu mencerminkan hal yang paradoks, yakni intoleransi, kebencian sektarian, dan penghinaan terhadap demokrasi. Fundamentalisme sedang menemukan momentumnya untuk tumbuh subur di Indonesia. Hal ini tentunya tidak terjadi secara alami.

Arab Saudi telah berusaha keras selama puluhan tahun untuk menjadikan Indonesia jauh dari pendulum Islam moderat untuk menuju pendulum Wahabisme yang keras, yaitu agama negara di Arab Saudi. Kampanye Saudi untuk mengantarkan indonesia kepada titik itu dilakukan dengan sabar, beragam cara ditempuh dan (tentu) berhamburan dengan uang. Ini menjadi cerminan negara yang lain bahwa Saudi telah berhasil melaksanakan manuver politiknya di negara-negara Muslim di Asia dan Afrika.

Presiden-presiden Amerika secara turun temurun telah membuat kita merasa yakin dan mantap bahwa Arab Saudi adalah teman kita (Amerika, red) dan yang selalu berharap baik atas kondisi kita. Padahal kita tahu bahwa Osama bin Laden dan sebagian besar pembajak kejadian 9/11 adalah orang-orang Saudi, dan bahwa, seperti halnya yang ditulis oleh Sekretaris Negara Hillary Clinton dalam sebuah telegram diplomatik sekitar delapan tahun yang lalu, “para pendonor dana di Arab Saudi merupakan sumber pendanaan paling signifikan bagi terbentuknya kelompok-kelompok teroris Sunni di seluruh dunia”.⁠⁠⁠⁠

Peristiwa-peristiwa terkini di Indonesia memberikan titik terang mengenai proyek Saudi yang ternyata lebih berbahaya daripada sekedar mendanai para teroris. Arab Saudi menggunakan kekayaannya, yang sebagian besar juga berasal dari Amerika Serikat, untuk mengubah seluruh negara-negara di dunia ini menjadi sarang sarang Islam radikal. Dengan menolak untuk memprotes atau bahkan secara resmi mengakui proyek yang luas jangkauannya ini, kita membiayai sendiri para pembunuh – dan teror global ini.

Pusat kampanye Arab Saudi untuk mengubah orang-orang Indonesia menjadi Islam Wahabi adalah universitas yang memberikan bebas biaya kuliah di Jakarta yang dikenal dengan singkatan LIPIA. Seluruh bahasa pengantar menggunakan bahasa Arab, yang diberikan oleh para penceramah dari Arab Saudi dan negara-negara terdekat.

Perbedaan Gender dipisahkan; cara berpakaian yang sangat tegas diberlakukan. Musik, televisi, serta “tertawa keras”, dilarang. Para mahasiswa belajar dengan cara yang sangat konservatif dari ajaran Islam; mendukung amputasi tangan untuk pencuri, rajam untuk pezina, dan hukuman mati bagi kaum gay serta para penghujat (agama).

Banyak mahasiswa yang datang dari berbagai pondok yang jumlahnya lebih dari 100 pondok yang didanai Arab Saudi di Indonesia, atau paling tidak mereka pernah mendatangi satu dari 150 masjid yang dibangun oleh Saudi di Indonesia. Hal yang paling menjanjikan adalah pemberian beasiswa untuk belajar di Arab Saudi, yang setelah lulus mereka sepenuhnya siap untuk menimbulkan malapetaka sosial, politik, dan agama di tanah air mereka. Beberapa dari mereka mempromosikan kelompok teror seperti Hamas Indonesia dan Front Pembela Islam, yang belum pernah ada sebelum orang-orang Saudi tiba.

Karena menggebu ingin memanfaatkan kesempatan, Raja Salman dari Arab Saudi melakukan kunjungan sembilan hari ke Indonesia pada bulan Maret, disertai rombongan yang berjumlah 1.500 orang. Saudi setuju untuk mengizinkan lebih dari 200.000 orang Indonesia melakukan ziarah ke Mekkah setiap tahun -jumlah yang lebih banyak dibandingkan dari negara-negara lain-, dan Saudi meminta izin untuk membuka cabang-cabang baru universitas LIPIA mereka.

Beberapa orang Indonesia berusaha untuk menyerang melawan serangan Saudi terhadap nilai-nilai ajaran tradisional, namun sulit kiranya untuk menolak izin pendirian universitas/sekolah agama baru ketika Indonesia tidak dapat memberikan alternatif model pendidikan sekuler yang layak.

Di Indonesia, sebagaimana halnya di negara-negara lain yang didalamnya orang-orang Saudi aktif mempromosikan Wahabisme -termasuk di Pakistan, Afghanistan, dan Bosnia- kelemahan dan korupsi pemerintahan pusat menciptakan kaum pengangguran yang tidak terelakkan dan mudah tergoda oleh iming-iming janji makanan gratis dan sebuah tempat bagi para tentara Tuhan (syahid).

Tumbuh suburnya fundamentalisme yang sedang dalam proses mengubah Indonesia, mengajarkan beberapa hal. Pertama adalah hal yang sudah sangat lazim kita ketahui, tentang tabiat pemerintah Saudi. Saudi adalah kerajaan monarki absolut yang didukung oleh salah satu sekte keagamaan paling reaksioner di dunia.

Hal ini memberi angin segar bagi para pemuka agama untuk mempromosikan merek anti-Barat, anti-Kristen, anti-Semit, tentang militansi agama di luar negeri. Sebagai gantinya, para pemuka agama tersebut menahan diri untuk tidak mengkritik monarki Saudi atau ribuan pangeran yang bergaya hidup mewah.

Orang-orang Saudi yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga yang berkuasa untuk memberikan dukungan penting kepada kelompok-kelompok seperti Al Qaeda, Taliban, dan ISIS. Fakta ini harus berada di garda depan pikiran kita setiap kali kita mempertimbangkan kebijakan kita terhadap Timur Tengah – termasuk saat kita memutuskan apakah akan berpihak pada orang Saudi dalam Keberhasilan Arab Saudi dalam mengatur kembali Indonesia menunjukkan betapa pentingnya pertempuran global atas ide-ide besar. Banyak para pelaku kebijakan di Washington yang mempertimbangkan bahwa pengeluaran (budget) untuk proyek budaya dan “soft power” lainnya sebagai bentuk pemborosan. Saudi tidak berpikir demikian. Mereka mengucurkan uang dan sumber daya untuk mempromosikan pandangan dunia (worldview) mereka. Kita semestinya harus melakukan hal yang sama.

Pelajaran ketiga yang Indonesia ajarkan saat ini adalah tentang kerentanan demokrasi. Pada tahun 1998, kediktatoran militer Indonesia yang represif memberi jalan pada suatu sistem baru, berdasarkan pemilu bebas, yang menjanjikan hak sipil dan politik untuk semua orang. Para penceramah radikal yang sebelumnya telah dipenjara karena telah menumbuhkan kebencian keagamaan, merasa diri mereka bebas menyebarkan racun mereka.

Demokrasi memungkinkan mereka menempa massa secara besar-besaran yang menuntut kematian bagi orang murtad dan pembangkang. Partai politik mereka berkampanye dalam pemilu yang demokratis sebagai hak untuk berkuasa dan menghancurkan demokrasi. Ini adalah kenyataan yang menyedihkan bagi mereka yang meyakini bahwa satu sistem politik adalah yang terbaik dan paling cocok untuk semua negara dalam segala situasinya.

Kampanye Saudi untuk usaha radikalisasi Islam global juga membuktikan bahwa sekian peristiwa yang membuat bumi terguncang sering terjadi secara perlahan dan tidak frontal. Media pers, yang dengan penuh perhatian memfokuskan diri untuk menyuguhkan berita hari ini, sering kali menghilangkan sisi cerita yang lebih dalam dan lebih penting.

Para sejarawan jurnalistik terkadang menunjuk ke arah utara “migrasi besar” Afrika-Amerika setelah Perang Dunia II sebagai cerita penting yang oleh beberapa jurnalis diperhatikan dikarenaan peristiwa ini merupakan sebuah proses yang lamban dibandingkan dengan berita acara satu hari.

Hal yang sama berlaku dalam kampanye panjang Arab Saudi untuk mengajak 1,8 miliar muslim di dunia kembali ke abad ke-7. Kita hampir tidak menyadarinya, tapi setiap hari, dari Mumbai ke Manchester, kita bisa merasakan efeknya. [ARN]

AR RAHMAH


Reformasi Keagamaan Arab Saudi dan Wahabisme di Indonesia

Reformasi politik yang bergulir di Arab Saudi memunculkan tanda-tanda orientasi baru Negara itu termasuk reformasi paham keagamaan.  Negara kaya minyak yang telah lama mengembangkan Wahabisme global dan menyokong berkembangnya Wahabisme di Indonesia itu ingin perubahan. Arah baru dimaksud adalah menghentikan radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme. Raja Salman, penguasa Nejed dan Hijaz itu menginginkan kembali kepada Islam moderat.

Wacana baru yang dilontarkan Pangeran Muhammad bin Salman ini menimbulkan harapan yang tampaknya berlebihan dari publik Nahdliyyin. Tampak ada harapan bahwa kelompok Salafi yang selama ini membid’ah-bid’ahkan kaum Nahdliyyin akan berhenti beroperasi karena bantuannya dihentikan oleh Arab Saudi. Ada harapan kehidupan akan damai dan tenang karena tv, radio, terbitan, medsos dan panggung-panggung para ustadz Salafi/Wahabi akan berhenti menfitnah, mencerca dan mendelegitimasi NU. Bahkan, ada harapan dana dari Arab Saudi yang selama ini tidak pernah seriyal pun diterima oleh kaum Nahdiyyin akan menghampiri mereka.

Apakah harapan Nahdliyyin itu akan menjadi kenyataan?

Ini terkait dengan pertanyaan tentang hakikat perubahan itu. Apa sesungguhnya yang dimaksud rejim Saudi sebagai radikalisme, ekstrimisme dan konservatisme? Kelompok mana yang dimaksud dengan itu? Kemudian, apa yang dimaksud dengan Islam moderat? Artikel pendek ini hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Koalisi Permanen Bani Saud dan Alu Syaikh

Arab Saudi menjadikan Islam sebagai agama resmi Negara. Meskipun tidak ada dokumen tertulis, Wahabi/Salafi merupakan aliran resmi yang penyebarannya dibiayai Negara. Jabatan-jabatan tinggi keulamaan dipegang oleh Alu Syaikh, sejumlah ulama yang merupakan keturunan Muhammad Bin Abdul Wahhab. Ulama Wahabi/Salafi seperti Abdullah Bin Baz menduduki status yang sangat tinggi dan didukung penuh oleh pemerintah untuk menyebarkan dan mengembangkan Salafiyah garis Ibnu Taymiyyah, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan Muhammad Bin Abdul Wahhab di dalam negeri dan ke seluruh dunia Islam.

Di waktu yang sama pemerintah menerapkan berbagai policy yang cenderung mempersempit ruang gerak madzhab lain. Sebagai imbalannya, Wahabi/Salafi menjadi pendukung paling loyal terhadap kekuasaan Raja Saudi.

Koalisi ini terbentuk sejak awal lahirnya kerajaan Arab Saudi. Semenjak fase merebut kekuasaan di wilayah Nejed (Jazirah Arabia bagian Timur), tepatnya di Dir’iyyah, Raja Saud dibantu oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Abdul Wahhab memiliki pasukan Paderi yang berjumlah besar yang menjadi pasukan inti Raja Saud. Pasukan Paderi ini adalah para pengikut Abdul Wahhab yang puritanis yang mencita-citakan pembersihan dan pemurnian ajaran Islam dari bid’ah, khurafat, dan takhayul.

Pasukan ini dikenal militan, ganas dan tanpa kompromi. Kontribusi tetara Wahabi sangat besar dalam berbagai kemenangan Raja Saud. Koalisi itu juga bahu-membahu merebut wilayah Hijaz (Jazirah Arab bagian barat) termasuk Mekah dan Medinah yang menandai lahirnya kerajaan besar Saudi Arabia.

Itulah sebabnya, sejak awal merebut Mekah dan Madinah, Raja Saud menerapkan kebijakan sapu bersih  apa yang dianggap bid’ah, khurafat, dan takhayyul. Madzhab yang empat dibatasi (kecuali Madzhab Hambali versi Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qoyim). Para ulama dan imam masjid Haramain diganti dengan para tokoh Wahabi. Wahabiyah didukung penuh oleh kerajaan untuk menjadi satu-satunya aliran di Arab Saudi. Situs-situs peninggalan Nabi, keluarga Nabi, dan para Sahabat dihancurkan termasuk makam keluarga Nabi serta para sahabat dan tabiin.

Jika saja tidak mendapatkan protes keras dari seluruh penjuru dunia Islam makam Nabi juga akan dihancurkan. Bahkan, tarekat sufiyyah dilarang sama sekali.

Koalisi ini makin menjadi-jadi setelah Arab Saudi panen minyak sejak 1930-an dan mulai tahun 1975 menjadi Negara super kaya. Arab Saudi ingin menjadi yang terdepan di dunia Islam. Ia bersaing dengan Mesir, Irak, Turki,  Syiria dan Iran. Saudi ingin pengaruhnya meluber ke penjuru negeri-negeri OKI. Salah satu wasilah yang dipakai adalah penyebaran Wahabi ke seluruh dunia. Dengan semakin kuatnya Wahabi di sebuah Negara, maka publiknya  akan menggeser dukungan kepada Negara-negara kuat saingan Saudi.

Internasionalisasi Wahhabi ini setidaknya dilakukan dengan beberapa strategi. Pertama, memberikan dukungan finansial kepada organisasi-organisasi penting. Cara ini dilakukan secara lebih canggih dan menyeluruh terutama pada tahun 1980-an dengan menciptakan organisasi perwakilan seperti Liga Muslim Dunia (Rabithah al-Alam al Islami), yang secara luas mendistribusikan literatur Wahhabi dalam semua bahasa utama dunia, memberikan hadiah dan sumbangan, serta menyediakan dana untuk jaringan penerbit, sekolah, mesjid, organisasi, dan perseorangan.

Tentu saja efek kampanye ini adalah munculnya banyak gerakan Islam di seluruh dunia yang menjadi pendukung ideologi Wahhabi. Kedua, persebaran Wahhabi juga didukung oleh berbagai institusi baik institusi sosial-keagamaan, pendidikan, institusi bisnis dan media massa seperti penerbitan buku, koran, radio, TV dan majalah maupun institusi politik dan pemerintah, dan juga perseorangan seperti imam, guru, ustadz, dan penulis  yang “secara oportunis” ingin mengambil untung dari donasi Saudi.

Koalisi Rezim Saudi dengan Wahabi/Salafi makin kuat saat ini karena Iran semakin menonjol sebagai saingan Saudi di regional Timur Tengah maupun di dunia Islam. Saudi juga terlibat perang dengan pihak-pihak yang didukung  Iran; Rejim Basyar Asad dan Pemberontakan Houti di Yaman. Wahabi/Salafi menjadi alat yang efektif untuk melawan pengaruh Iran di dunia Islam dengan gerakan anti Syi’ah. Intinya, Syi’ah bukan Islam oleh karena itu ia harus diisolasi dari pergaulan dunia Islam. Iran harus keluar dari OKI, atau minimal tidak menduduki posisi penting di OKI.

Melihat besarnya kepentingan Kerajaan Saudi terhadap Wahabi/Salafi sebagai pendukung kekuasaan dan kepentingan politik regional dan internasional ini, berat rasanya Arab Saudi meninggalkan Wahabi/Salafi. Di lain pihak, jaringan Ahlussunnah Waljamaah (non-Wahabi) di Arab Saudi telah terlanjur berantakan dihajar oleh pemerintah Saudi, tinggal sisa-sisanya, antara lain jaringan Syaikh Alwi Al-Maliki.

Oleh karenanya Pangeran Muhammad Bin Salman tidak pernah mengatakan akan memberantas Wahabi. Yang ia katakan adalah memberantas ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif. Siapakah mereka?

Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafi Takfiry

Wahabisme/Salafisme telah berkembang jauh dengan percabangan yang makin rumit. Di antara berbagai fraksi dalam Wahabi/Salafi sendiri terdapat tiga kelompok yang oposisional terhadap pemerintah Saudi. Yakni Salafi Surury, Salafi Jihadis dan Salafy Takfiry. Salafy Surury atau “Salafiyah Politik” yang lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang agenda pemurnian (purifikasi).  Mereka terpengaruh oleh pemikiran lkhwan Al-Muslimin (IM).

Sebutan mereka merujuk pada dai Syiria Muhammad Syurur Zein Al-Abidin, seorang tokoh IM. Kelompok inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan intervensi militernya dalam perang Teluk II.  Mereka juga menentang politik Saudi Arabia yang tidak tegas terhadap Israel.Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, ‘Aidh Al-Qarni, dan lain-lain.

Sedangkan Salafi Jihadis dan Salafi Takfiris sama-sama menggunakan kekerasan dan terror. Dua-duanya adalah produk Saudi sendiri. Keterlibatan Arab Saudi dan Intelijen Pakistandukungan Amerika Serikat dalam membentuk “legiun Arab” dalam perang Afghanistan serta keterlibatannya dalam mensupport kelompok perlawanan Sunni terhadap rezim Syiah Basyar Asad di Syiria telah melahirkan jenis Salafi baru yang tidak dikehendakinya.

Para sukarelawan jihad di Afghanistan melahirkan Tanzim Al-Qaidah pimpinan Usamah Bin Ladin, sebuah kelompok teroris yang berideologi Salafi Jihadi. Sedangkan sukarelawan Sunni di Syiria berkembang menjadi Daisy (Al-Daulah Al-Islamiyyah fi Al-Iraq wa Al-Syuriyah) masyhur disebut ISIS.Kelompok bersenjata yang didukung sukarelawan dari berbagai Negara ini merupakan kiblat bagi kelompok pro kekerasan yang menganut ideology Salafi Takfiri. Ketiga kelompok Salafi inilah yang disebut oleh Pangeran Muhammad Bin Salman sebagai ekstrimisme, radikalisme dan kaum konservatif.

Islam Moderat ala Saudi: Neo Fundamentalis

Lalu, siapakah Islam moderat itu? Yaitu Salafi yang loyal kepada Kerajaan. Salafi yang a-politis yang loyal dan memberikan legitimasi agama bagi keabsahan kekuasaan Raja Saud. Salafi resmi di bawah Abdullah Bin Baz dan Syaikh Utsaimin yang menfatwakan bahwa berorganisasi dan berpolitik adalah bid’ah dlolalah.

Agenda konkretnya adalah membendung dan menyaingi pengaruh IM yang sangat politis, cenderung kritis dan oposisional terhadap semua penguasa di dunia Arab. Yang dimaui oleh Keluarga Raja Saud adalah melemahkan arus deras Islamisme (Islam sebagai ideology perlawanan) yang dimunculkan oleh IM.

Oleh karenanya, seruan yang didukung oleh Salafisme internasional ala Saudi adalah kesalehan individu, purifikasi agama dan penerapan Syariat Islam sebagai hokum formal. Inilah yang oleh Olivier Roy disebut sebagai neo-fundamentalisme yang telah berhasil sekian waktu membendung bahkan menggagalkan agenda Islamisme di dunia Islam.

Salafi-Wahabi yang berkembang di Indonesia adalah Salafi resmi ini. Reformasi di Arab Saudi tak akan berpengaruh apa-apa terhadap kelompok-kelompok Salafi di sini. Real Saudi akan tetap mengucur ke kelompok-kelompok Salafi di negeri kita. Sebab, yang diperangi hanyalah Salafi Surury, Salafi Jihadi dan Salafi Takfiry. Kaum Nahdliyyin harus tetap bersabar dibid’ah-bid’ahkan oleh kelompok Salafi. Innallaha m’ashshabiriin.

Oleh M. Imdadun Rahmat: Penulis adalah Direktur SAS Institute dan pengajar Program Kajian Terorisme SKSG Universitas Indonesia

NU OR ID


PUBLIKASI OLEH KANAL INDONESIA HARI INI

Iklan